Senin, 21 September 2015

Berita Sepak Bola : Red Devils Memanfaatkan Garis Pertahanan Tinggi Soton

Berita Sepak Bola : Red Devils Memanfaatkan Garis Pertahanan Tinggi Soton

sumber berita Red Devils Memanfaatkan Garis Pertahanan Tinggi Soton : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a06290e/sc/13/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C210C130A7510C30A243270C1480A0Cred0Edevils0Ememanfaatkan0Egaris0Epertahanan0Etinggi0Esoton/story01.htm
Manchester United berhasil mengalahkan Southampton dengan skor 3-2 pada pertandingan Liga Primer Inggris keenam pada Minggu (20/9) malam di Stadion St. Mary's.

Southampton mencetak gol terlebih dahulu melalui Graziano Pelle pada menit ke-13, tapi MU mampu membalikkan keadaan melalui dua gol yang dicetak Anthony Martial, plus gol dari Juan Mata. Tuan rumah memperkecil ketinggalan melalui sundulan kepala Pelle empat menit di akhir babak kedua.

Kedua kesebelasan sama-sama memakai formasi 4-2-3-1. Di kubu MU, Wayne Rooney ditempatkan menjadi gelandang serang, dan posisi penyerang utama diisi Martial. Luke Shaw yang cedera patah kaki, posisinya di full-back kiri digantikan Marcos Rojo.



Peran Rooney Sebagai Stabilitas di Lini Tengah

Kubu The Red Devils tahu jika umpan langsung diarahkan ke tengah lapangan akan lebih sering menjadi kesia-siaan. MU rentan selalu kalah dalam duel udara. Dari sembilan tendangan gawang jarak jauh yang dilakukan David de Gea, hanya satu yang berhasil menjadi penguasaan bola bagi Rooney dkk. Akibatnya, kiper Spanyol tersebut cenderung melepaskan tendangan gawang ke arah lebih dekat, kemudian dialirkan ke sisi kiri kepada Rojo. Tapi si kulit bundar tidak lantas digulirkan ke depan dengan cepat. Jika kedua fullback sudah membawa bola hingga tengah lapangan, bola akan diserahkan lebih dulu kepada pemain tengah.

Pada area tengah tersebutlah Rooney yang ditempatkan sebagai gelandang serang turun menjemput bola. Ia memutar-mutarkan bola di lini tengah, bahu-membahu dengan Michael Carrick. Dari proses serangan yang seperti inilah MU bisa lebih menguasai bola dengan presentase 59%.



[Grafis operan keseluruhan Manchester United (kiri) dan Wayne Rooney (kanan). Sumber: Squawka]

Pemain bernomor pungggung 10 itu pun jarang melepaskan umpan terobosan langsung ke dalam kotak penalti Southampton. Dirinya lebih memilih memberi bola kepada Carrick atau Morgan Schneiderlin yang berada di belakangnya, atau kepada Memphis Depay di sisi kiri atau Juan Mata di sayap kanan.

Fungsi Rooney tersebut dimaksudkan untuk lebih memancing pertahanan garis tinggi tuan rumah, yang memperagakan pressing ketat kepada lawan. Rooney berupaya memancing Oriol Romeu keluar lebih tinggi dari sarangnya, agar Virgil van Dijk terpancing meninggalkan posnya sehingga celah untuk Martial di dalam kotak penalti Southampton lebih terbuka.

Diperkaya oleh pergerakan Juan Mata yang juga aktif bergerak ke tengah, cara itu relatif bisa memberikan ruang bagi Martial. Apalagi penyerang utama MU saat itu lebih sering berada di setengah lapangan, kadang di tengah atau agak melebar ke sayap, untuk kemudian bergerak cepat maju ke dalam kotak penalti ketika bola sudah sampai di kaki Rooney atau Memphis atau Mata.

Pergerakan Martial juga lebih leluasa karena patner Virgil di bek tengah, Jose Fonte, lebih sering tertarik ke sisi kanan pertahanan untuk membantu Maya Yoshida meredam Memphis atau Rojo yang terkadang maju.


[Celah Antara Bek Southampton Akibat Garis Pertahanan Tinggi]

Cara bertahan yang memainkan garis pertahanan tinggi yang diperagakan Southampton memang membuat MU tidak gampang menembus pertahanan Southampton sejak dari lini tengah. Romeu dan Victor Wanyama sering berhasil menahan serangan MU ketika sedang memutar-mutarkan bola di area tersebut. Total lima blocking pass berhasil dilakukan keduanya di lini tengah dan empat tekel sukses di sisi kanan area tengah Southampton.

Wanyama menjadi orang pertama yang berduel dengan Schneiderlin atau Carrick. Melalui Wanyama juga Soton memulai serangan dari lini tengah untuk dialirkan menuju dua sayap mereka yaitu Dusan Tadic atau paling sering kepada Sadio Mane di sisi sebelah kanan.

Ketika serangan itu dibangun jugalah Romeu tidak ikut terpancing maju ke sepertiga akhir lawan. Dirinya tetap berada di setengah lapangan atau terkadang membantu sisi kanan lapangan agar bisa menghentikan pergerakan Rojo atau Memphis sejak dini.

Aliran bola MU dari tengah ke sisi kiri yang ditempati Memphis tidak jarang menemui jalan buntu karena Yoshida, full-back kanan Southampton, kerap berhasil memotong aliran bola sebelum sampai kepada Memphis. Jadi bukan hanya menempal Memphis, tapi sering juga memangkas aliran bola menuju Memphis.

Begitu juga Jose Fonte yang membantu Yoshida mengawal area kanan pertahanannya sendiri. Alhasil, tidak jarang Memphis kerap dibayang-bayangi dua orang sekaligus oleh Yoshida dan Fonte, atau terkadang Yoshida dengan Romeou.

Sementara itu Rojo sebagai full-back kiri agak berhati-hati untuk naik terlalu jauh membantu Memphis yang sedang mengolah bola. Jika Memphis sedang membawa bola di depannya, Rojo cuma bergerak sampai di tengah lapangan. Ketika Rojo berada di sepertiga akhir lawan, Memphis bergerak ke tengah untuk memancing Fonte. Maka Memphis lebih sering memainkan aksi individu yang sering disulitkan oleh pengawalan Yoshida dan Fonte.

Kendati demikian kerja sama Yoshida dan Fonte di sisi kanan memberikan celah begitu besar kepada Martial. Fonte yang kerap terlalu menjorok ke sisi kanan pertahanan Southampton dan akhirnya meninggalkan jarak cukup jauh antara dirinya dengan Vigil.

Kendati sebetulnya serangan MU melalui sisi kiri lebih sering kandas, namun mereka tetap menyerang melalui area tersebut. Itu dilakukan untuk memancing Fonte agar terus membantu Yoshida sehingga pergerarakan Martial di lini depan dan Mata yang masuk ke kotak penalti bisa lebih leluasa dan hanya dihalangi oleh Virgil yang menjaga kotak penalti. Seluruh gol MU pada pertandingan ini pun nota bene ada andil serangan yang dibangun dari sisi kiri tersebut.

Cara Louis Van Gaal Menutupi Kelemahan Pertahanannya

Kecenderungan serangan MU yang dimulai melalui Rojo tidak sepenuhnya mampu dilakukan dengan mudah. Sadio Mane sebagai gelandang serang sayap kanan Southampton kerap menempel Rojo. Bek Argentina yang sering memulai serangan MU ini mencoba menyiasatinya dengan membawa si kulit bundar hanya sampai ke lapangan tengah, kemudian mengoper bola kepada Carrick, Schneiderlin atau Rooney yang menjemput bola, lalu si kulit bundar dialirkan ke sisi kiri lagi kepada Memphis atau kembali kepada Rojo.

Tapi performa Rojo sebagai pola serangan pertama MUd tidak terlalu bagus. Pemain bernomor punggung lima ini sering kehilangan bola, kalah berduel, dan beberapa umpan pendeknya mampu dipotong lawan serta kesulitan mengimbangi kecepatan Mane.

Terkadang ketika sedang dalam bertahan pun posisi Rojo sering terlambat turun sehingga ada membuat kekosongan di area sisi kiri pertahanan timnya. Dari sektor tersebutlah Mane bahu membahu dengan James Ward-Porse mengeksploitasi area tersebut dan melepaskan umpan silang datar ke depan gawang MU.

Selama 69 menit berada di lapangan, area yang dijaga Rojo tersebut melahirkan tujuh umpan silang dan dua antaranya menjadi umpan kunci. Untuk menjaga keseimbangan serangan, Van Gaal pun memasukan Antonio Valencia menggantikan Matteo Darmian ketika pertandingan babak kedua dimulai. Hasilnya, serangan MU pada dua sisi ini lebih merata karena pada babak pertama Darmian cenderung lebih bertahan mengantispasi pergerakan Dusan Tadic di sektor kanan pertahanan MU.

Rajinnya Valencia membantu serangan membuat Mata lebih leluasa masuk ke dalam kotak penalti The Saints. Sedangkan posisi Mata di tengah lapangan sebelah kanan diisi oleh Valencia yang naik menyerang. Van Gaal pun mengubah skema sejak Rojo ditarik keluar pada menit ke-69 membuat skuatnya lebih cenderung menyerang melalui sisi kanan.



Southampton Terlambat Maksimalkan Umpan Silang

Arsitek Southampton, Ronald Koeman, seolah terlambat menyadari kelemahan duel udara Chris Smailing dan Daley Blind di kotak penalti. Terlihat dari cara Southampton yang condong hanya memanfaatkan kelengahan pertahanan sisi kiri MU untuk mengirimkan umpan silang datar.

Padahal jika dilihat dari presentase duel udara, Southampton lebih unggul dengan rataan 57% berbanding 43%. Bahkan mereka pun memenangkan enam duel udara di dalam kotak penalti MU, yang salah satunya menjadi gol Pelle pada menit ke-86.

Sementara itu Southampton baru betul-betul memaksimalkan umpan-umpan jauh pada babak kedua. Umpan silang lambung sering dilakukan dari sektor kiri pertahanan MU. Maka pada menit ke-69 Van Gaal memilih menarik keluar Rojo untuk diganti Patrick McNair. Tapi penggantinya tidak lebih baik. McNair tidak sekalipun melakukan tekel sukes. Ia juga tak sekali pun membuat intersepsi dan blok umpan silang lawan yang terus berhamburan dari area yang dijaganya.

Beruntung penyelesaian umpan silang Southampton sering berhasil digagalkan De Gea. Pemain yang kembali dipercaya menjadi penjaga gawang utama itu melakukan sembilan aksi penyelamatan selama pertandingan. Dua gol yang bersarang di gawangnya pun bisa dibilang bukan mutlak kesalahannya melainkan dampak dari buruknya kordinasi pertahanan di antara Rojo dengan Blind. Kedua pemain tersebut sering terlambat menutupi pergerakan lawan. Blind terkadang terpancing maju untuk mengejar Ward-Porse sehingga membuat Rojo lebih sering bergerak ke tengah.

Kesimpulan

Kendati tidak mencetak gol atau assist, namun peran Rooney memutar-mutar bola ke berbagai area kecuali kotak penalti lawan membuat Martial dan Mata sering berhasil menerobos calah antara Virgil dan Fonte. Virgil pun tidak mampu berkonsentrasi mengawal Martial sepenuhnya karena area yang ditinggal Fonte harus tetap ia jaga.

Serangan yang dibangun MU yang berakhir di sisi kiri tidak terlalu efektif. Mereka beruntung karena lini belakang Southampton sering melakukan kesalahan ketika bertahan, sehingga walau tidak efektif, sisi kiri MU tetap berandil besar dalam dua gol.

Bagi Southampton kekalahan ini memang menyakitkan. Tapi mereka memperlihatkan diri sebagai kesebelasan yang bisa bermain amat bagus dan berbahaya. Koeman masih bisa menunjukkan kualitasnya di musim lalu yang bisa menang kandang tandang atas MU. Andai De Gea tidak bermain bagus, boleh jadi tuan rumah juga akan meraih poin.

====

* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.


Nuhun for visit Red Devils Memanfaatkan Garis Pertahanan Tinggi Soton

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar