Senin, 21 September 2015

Berita Sepak Bola : Advocaat, Bunga untuk Istri, dan Siklus Absurd Sunderland

Berita Sepak Bola : Advocaat, Bunga untuk Istri, dan Siklus Absurd Sunderland

sumber berita Advocaat, Bunga untuk Istri, dan Siklus Absurd Sunderland : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a06358e/sc/21/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C210C1414160C30A244410C720Cadvocaat0Ebunga0Euntuk0Eistri0Edan0Esiklus0Eabsurd0Esunderland/story01.htm
Sunderland - Hanya dalam hitungan bulan, hubungan Dick Advocaat dengan pendukung Sunderland berubah, dari mesra menjadi kikuk. Dari ucapan terima kasih dan kiriman bunga menjadi perasaan bersalah dan permintaan maaf.

Sunderland menelan kekalahan keempat musim ini setelah takluk 0-2 dari AFC Bournemouth, Sabtu (19/9) lalu. Imbasnya, The Black Cats terbenam di dasar klasemen dengan catatan belum pernah meraih kemenangan musim ini.

Mari kembali ke beberapa bulan silam. Pada Maret 2015, Advocaat ditunjuk menjadi manajer anyar Sunderland untuk menggantikan Gustavo Poyet. Keputusan tersebut tidak salah mengingat pada bulan Mei, Advocaat sukses menyelamatkan Sunderland dari degradasi.

Sunderland finis di urutan ke-16 dan Advocaat pun dianggap sebagai dewa penyelamat. Pendukung Sunderland jatuh cinta, tapi cinta itu bertepuk sebelah tangan. Advocaat sudah kadung memutuskan untuk pensiun sehabis musim kemarin. Manajer asal Belanda itu patuh akan janjinya kepada sang istri, Dieuwke, untuk pensiun melatih.

Tapi, Advocaat berubah pikiran. Hanya sepekan setelah mengumumkan pensiun, Advocaat memutuskan menerima tawaran Sunderland untuk terus melatih. Dieuwke jugalah yang mengizinkannya untuk terus melatih. Menurutnya, Dieuwke selalu mendengarkan ketika dia terus-terusan ditelpon oleh pemilik Sunderland, Ellis Short, dan direktur olahraga klub, Lee Congerton.

Tentu saja pendukung Sunderland senang. Mereka berinisiatif melakukan pengumpulan dana. Dana yang terkumpul akan dibelikan bunga untuk istri Advocaat sebagai bentuk terima kasih.

Meski awalnya hanya untuk membeli bunga, pengumpulan dana secara online itu menghasilkan total 2.650 poundsterling (sekitar Rp 54,3 juta). Dari jumlah tersebut, hanya 150 poundsterling (sekitar Rp 3 juta) yang dipakai untuk membeli bunga dan sisanya disumbangkan ke badan amal. Indah bukan?

Nyatanya, pada September 2015, keindahan itu sirna. Hubungan mesra antara Advocaat dan pendukung Sunderland berubah menjadi perasaan bersalah. Sunderland kini terpuruk lagi, sama seperti musim lalu, dan Advocaat pun hanya bisa menghaturkan maaf.

"Ini amat memalukan untuk fans. Kami dibayar dengan layak dan mereka sudah membayar mahal untuk menonton pertandingan. Saya minta maaf kepada mereka, dan saya bersungguh-sungguh mengucapkannya," ujar Advocaat di Soccerway.

"Saya akan berusaha sekuat mungkin untuk klub ini, buat para pendukung, karena mereka adalah pendukung yang hebat."

Sunderland pun bak menjalani sebuah deja vu. Sebuah siklus absurd yang terus berulang. Sudah sering mereka seperti ini: tampil buruk, memecat manajer, menunjuk manajer baru, selamat dari jerat degradasi, dan kembali terpuruk di musim berikutnya.

Sejak Maret 2013, Sunderland sudah ditangani empat orang manajer, termasuk caretaker Kevin Ball. Dimulai dari Paolo Di Canio, lalu Ball, kemudian menunjuk Poyet, dan kini Advocaat.

Di antara keempatnya, Poyet adalah yang paling lama bertahan. Poyet melatih dari Oktober 2013 hingga Maret 2015. Sepanjang waktu itu, Poyet memimpin Sunderland dalam 69 laga, meraih 23 kemenangan, 20 hasil imbang, dan 26 kekalahan.




Nuhun for visit Advocaat, Bunga untuk Istri, dan Siklus Absurd Sunderland

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar