Rabu, 23 September 2015

Berita Sepak Bola : Keunggulan Juventus Dibuyarkan Gol di Menit-menit Akhir

Berita Sepak Bola : Keunggulan Juventus Dibuyarkan Gol di Menit-menit Akhir

sumber berita Keunggulan Juventus Dibuyarkan Gol di Menit-menit Akhir : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a1c3ec2/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C240C0A345460C30A272990C710Ckeunggulan0Ejuventus0Edibuyarkan0Egol0Edi0Emenit0Emenit0Eakhir/story01.htm
Turin - Juventus gagal meraih kemenangan ketika menjamu Frosinone. Tampil dominan dan unggul 1-0 hingga menit ke-90, keunggulan Bianconeri sirna setelah Leonardo Blanchard mencetak gol di menit-menit akhir. Skor akhir 1-1.

Juventus sendiri tampil dominan sepanjang pertandingan. Paul Pogba dkk. membuat banyak peluang, namun berulang kali kans yang mereka miliki tidak mengarah tepat sasaran. Sementara, Frosinone sempat beberapa kali membahayakan gawang Juventus.

Juventus unggul 1-0 lebih dulu lewat gol Simone Zaza di menit ke-50. Tetapi, Frosinone berhasil mencuri angka lewat gol Leonardo Blanchard di menit ke-90.

Dengan hasil ini, Juventus --yang sejauh ini baru meraih satu kemenangan-- duduk di posisi ke-13 klasemen sementara dengan koleksi nilai 5. Sementara itu, Frosinone tetap berada di dasar klasemen dengan koleksi nilai 1. Frosinone belum pernah meraih kemenangan musim ini.

Jalannya Pertandingan

Pada pertandingan yang berlangsung di Juventus Stadium, Kamis (24/9) dinihari WIB, Juventus tidak bisa menurunkan sejumlah pemain utama mereka. Mario Mandzuic dan Alvaro Morata tak bisa diturunkan lantaran cedera. Posisi di lini depan pun diserahkan kepada trio Simone Zaza-Roberto Pereyra-Juan Cuadrado.

Pada babak pertama, Juventus sempat mendapatkan sejumlah peluang bagus. Namun, berbagai kans yang mereka dapatkan tersebut gagal berbuah gol lantaran sepakan pemain-pemain mereka tak menemui sasaran.

Paul Pogba, misalnya, mendapatkan peluang pada menit ke-17. Gelandang asal Prancis itu melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti. Tetapi, sepakannya masih melenceng.

Beberapa menit setelahnya, usaha serupa dilakukan oleh Juan Cuadrado. Kendati demikian, tendangannya juga bernasib sama dengan Pogba: masih melenceng dari sasaran.

Pada menit ke-30, Frosinone nyaris membobol gawang Juventus lewat tendangan Nicolás Castillo dari dalam kotak penalti. Namun, tendangannya masih mengenai tiang gawang. Usaha Alessandro Frara setelahnya juga gagal lantaran diblok oleh Andrea Barzagli.

Setelah babak pertama berakhir dengan kedudukan 0-0, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, memilih untuk memainkan Giorgio Chiellini dan Paulo Dybala. Stephan Lichsteiner dan Stefano Sturaro ditariknya ke bangku cadangan.

Pada menit ke-50, Juventus akhirnya unggul. Operan yang dilepaskan oleh Cuadrado dari kanan disambut dengan sepakan keras Simone Zaza. Bola tampak berbelok setelah mengenai kaki Leonardo Blanchard sebelum akhirnya masuk ke dalam gawang. 1-0 untuk Juventus.

Frosinone sempat membalas lewat dua buah peluang yang dihasilkan Daniel Ciofani dan Modibo Diakite. Tetapi, baik sundulan Ciofani maupun tendangan Diakite masih belum membuahkan hasil lantaran diblok.

Juventus juga berusaha mencetak gol kedua lewat tendangan dari luar kotak penalti. Namun, usaha yang dilakukan Pogba dan Cuadrado lagi-lagi tak membuahkan hasil.

Pada menit ke-65, Leonardo Bonucci juga mendapatkan peluang lewat tendangan dari luar kotak penalti. Tetapi, kiper Nicola Leali masih bisa mengamankannya.

Delapan menit menjelang akhir, Pereyra mencoba peruntungannya dengan melepaskan tendangan kaki kanan dari dalam kotak penalti. Sial baginya, sepakannya masih melebar.

Pada menit ke-90, keunggulan Juventus akhirnya sirna. Sebuah sepak pojok yang dilepaskan dari sisi kiri disambut oleh Leonardo Blanchard dengan sundulan tepat di depan gawang Juventus. Sundulannya berhasil membobol gawang Juventus dan memaksakan hasil imbang.

Susunan Pemain

Juventus: Neto, Lichtsteiner (Chiellini 45), Barzagli, Bonucci, Alex Sandro, Pogba, Lemina, Sturaro (Dybala 45), Zaza (Hernanes 77), Cuadrado, Pereyra.

Frosinone: Leali, Crivello, Blanchard, M. Ciofani (Rosi 83), Diakite, Frara, Gori, Soddimo, Chibsah, D. Ciofani, Castillo (Dionisi 85).




Nuhun for visit Keunggulan Juventus Dibuyarkan Gol di Menit-menit Akhir

Berita Sepak Bola : Tiket Liga Champions Jadi Target Milan Musim Ini

Berita Sepak Bola : Tiket Liga Champions Jadi Target Milan Musim Ini

sumber berita Tiket Liga Champions Jadi Target Milan Musim Ini : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a1b12f4/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C2353120C30A272750C710Ctiket0Eliga0Echampions0Ejadi0Etarget0Emilan0Emusim0Eini/story01.htm
Udine - AC Milan mempunyai satu misi di Liga Italia musim ini. Bukan membidik scudetto, tapi Rossoneri ingin mengamankan tiket untuk berlaga di Liga Champions musim depan.

Setelah melakukan belanja besar di awal musim, Milan sempat mematok target tinggi. Presiden klub, Silvio Berlusconi, bahkan langsung bilang bahwa I Diavolo Rosso membidik scudetto.

Tapi, Milan malah langsung terpeleset di pertandingan pertama. Mereka kalah dua gol tanpa balas dari Fiorentina.

Dalam tiga laga berikutnya, Milan memang mampu meraih dua kemenangan dan sekali kekalahan. Tapi, raihan mereka kalah jauh dari Inter Milan yang tampil sempurna di empat laga dengan raihan kemenangan.

Milan mulai berada dalam laju bagus setelah memetik kemenangan atas Udinese, Rabu (23/9/2015) dinihari WIB. Mereka menang dengan skor akhir 3-2 saat melakoni pertandingan di Friuli.

Hasil itu untuk sementara mengantarkan Milan menjejaki posisi empat klasemen sementara. Bek tim asal kota mode itu, Alessio Romagnoli, bilang bahwa tiket Liga Champions menjadi bidikkan utama Milan musim ini.

"Kami melakukan start yang lambat. Pembicaraan mengenai scudetto masih sangat jauh. Misi kami di saat ini adalah untuk mengamankan satu spot di Liga Champions," ujar Romagnoli di Sky Sports Italia.

Nuhun for visit Tiket Liga Champions Jadi Target Milan Musim Ini

Berita Sepak Bola : 'Berlusconi Senang dengan Balotelli'

Berita Sepak Bola : 'Berlusconi Senang dengan Balotelli'

sumber berita 'Berlusconi Senang dengan Balotelli' : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a1896dd/sc/13/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C1833350C30A271250C710Cberlusconi0Esenang0Edengan0Ebalotelli/story01.htm
Milan - Mario Balotelli menandai debutnya sebagai starter di periode keduanya bersama AC Milan dengan apik. Presiden Milan Silvio Berlusconi pun diklaim merasa terkesan dengan pemainnya itu.

Balotelli kembali ke Milan dengan status pemain pinjaman usai menghabiskan semusim yang gagal di Liverpool. Pada awalnya, striker kontroversial itu mengawali dengan duduk di bangkucadangan saat Rossoneri mengalahkan Empoli 2-1 di pekan kedua.

Dua partai berikutnya, Balotelli masuk sebagai pemain pengganti di laga melawan Inter Milan (Milan kalah 0-1) dan Palermo (menang 3-2). Tadi malam, Balotelli dipasang sejak awal saat Milan bertamu ke Udinese dan membayarnya dengan gol cantik dari tendangan bebas yang turut memenangkan timnya 3-2.

Wakil presiden Milan Adriano Galliani menyatakan bahwa Berlusconi senang dengan Balotelli. Hal ini bisa jadi sebagai indikator hubungan Berlusconi dan Balotelli membaik. Bukan rahasia lagi bahwa pemilik Milan itu tidak senang dengan Balotelli dan sempat menyebutnya 'Apel Busuk'.

"Presiden senang dengan dia (Balotelli)," ucap Galliani yang dilansir Football Italia.

"Menggaet Balotelli sejatinya memang ide saya, tapi tanpa persetujuan dari presiden dia tidak akan datang. Pilihan itu kemudian didukung oleh (pelatih Sinisa) Mihajlovic, yang bertemu Mario di sebuah tempat parkir pada malam setelah pertandingan melawan Fiorentina."

"Kedua langsung saling suka. Sinisa menawarkan jaminan untuk Mario lalu dia pun kembali ke Milanello," tutur Galliani.


Nuhun for visit 'Berlusconi Senang dengan Balotelli'

Berita Sepak Bola : Pele: Suarez Lebih Buruk daripada Costa

Berita Sepak Bola : Pele: Suarez Lebih Buruk daripada Costa

sumber berita Pele: Suarez Lebih Buruk daripada Costa : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a193acb/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C1912260C30A271610C720Cpele0Esuarez0Elebih0Eburuk0Edaripada0Ecosta/story01.htm
Jakarta - Legenda sepakbola Brasil, Pele, membela Diego Costa dari kontroversi yang sedang meliputinya usai laga melawan Arsenal. Menurut Pele, apa yang dilakukan Costa tidak seburuk Luis Suarez.

Costa sedang jadi sasaran kritik karena aksinya di laga melawan Arsenal di lanjutan Premier League akhir pekan lalu. Striker Chelsea itu terlihat mendorong wajah Laurent Koscielny dengan tangannya saat keduanya sedang berduel menunggu bola. Costa kemudian juga tampak menjatuhkan Koscielny di dalam kotak penalti dengan mendorong bek Arsenal itu dengan badannya.

Insiden tersebut kemudian memicu keributan di antara pemain dari kedua tim, yang berujung pada kartu merah Gabriel Paulista. Sementara itu, Costa dan Koscielny hanya mendapat kartu kuning.

FA kemudian turun tangan dengan menginvestigasi kejadian tersebut. Costa dinyatakan bersalah telah melakukan tindakan tidak terpuji dan dijatuhi hukuman larangan bertanding sebanyak tiga laga.

Apa yang dilakukan oleh Costa dinilai Pele masih dalam tahap wajar. Yang lebih buruk menurutnya adalah Suarez yang sampai menggigit pemain lawan. Branislav Ivanovic dan Giorgio Chiellini adalah dua pemain yang pernah menjadi 'korban' dari striker asal Uruguay itu.

"Dengar, bagi saya ini sangat biasa (di era 60an dan 70an)," ujar Pele kepada Agence France-Presse seperti dilansir London Evening Standard.

"Sepanjang hidup saya mengalami dikawal dengan baik. Dia adalah pemain yang sangat bagus, semua orang tahu," lanjut pria berusia 74 tahun itu.

"Ini adalah satu momen. Striker yang menggigit seseorang, Luis Suarez, lebih buruk daripada ini," katanya.



Nuhun for visit Pele: Suarez Lebih Buruk daripada Costa

Berita Sepak Bola : Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA

Berita Sepak Bola : Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA

sumber berita Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA : http://sport.detik.com/sepakbola/read/2015/09/23/172446/3027040/1497/luke-shaw-teknologi-video-dan-tegasnya-aturan-fifa
Luke Shaw divonis menepi dari lapangan selama enam bulan. Tekel pemain PSV Eindhoven, Hector Moreno, mematahkan tulang kering dia. Pemain Manchester United itu pun ditandu keluar lapangan. Penonton bertepuk tangan tanda penghormatan, sementara komentator dan penonton di rumah mulai mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Dalam kasus Shaw, setidaknya ada tiga pihak yang bisa ditunjuk sebagai pihak yang disalahkan. Aktor pertama tentu Moreno yang melakukan tekel keras. Kedua, wasit yang tak memberikan kartu buat Moreno dan hadiah penalti untuk MU. Ketiga, Shaw sendiri yang memaksakan menerobos hadangan Moreno.

Ketiga pihak tersebut tentu punya argumen dan bantahannya masing-masing. Moreno melakukannya karena insting untuk menyelamatkan gawang dari ancaman lawan. Wasit sudah punya preferensi dan interpretasi sendiri soal aturan dasar tekel, sementara Shaw sedang berada dalam posisi menguntungkan untuk mencetak gol sehingga tak bisa menghindar.

Kolumnis The Guardian, Daniel Taylor, merangkum sejumlah pendapat, termasuk dua wasit terbaik Inggris: Howard Webb dan Graham Poll. Uniknya, keduanya punya pendapat yang berkebalikan. Webb mendukung keputusan wasit yang tak memberi hukuman, sementara Poll menegaskan kalau tekel tersebut pantas diganjar kartu merah. Padahal, baik Poll maupun Webb menonton dan mengkaji tayangan ulang yang sama.

Sejatinya silang pendapat hadir karena fatalnya cedera yang diderita Shaw. Barangkali apabila Shaw masih sehat dan segar bugar, fragmen tekel Moreno tak akan terlalu banyak mengambil tempat dalam laga yang dihelat di Stadion Phillips tersebut. Terlebih lagi MU kalah dan Moreno, si antagonis, turut mencetak gol. Hal tersebut meninggalkan "ketidakadilan" karena, apabila Shaw tak cedera, bisa saja PSV tak mencetak gol; bisa pula Moreno tak mengembangkan senyuman usai mencetak gol setelah mencederai Shaw.

Cederanya Shaw bukan cuma menjadi perhatian penggemar MU. Pendukung kesebelasan negara Inggris pun kecewa karena Shaw, yang hampir mencapai puncak performanya pada musim ini dan digadang-gadang menjadi bek kiri masa depan Inggris, hampir sulit untuk bisa dilibatkan dalam Piala Eropa 2016 mendatang. Masa pemulihan dari cedera yang ia derita memang bisa dipaksakan, tapi kondisi mental Shaw setelah patah tulang yang masih menjadi pertanyaan.

"Akan selalu ada rasa sedih saat melihat pemain yang masih muda, yang mencapai puncak permainannya, ditebas oleh cedera yang dalam kasus Luke Shaw itu adalah kemalangan yang begitu mengerikan," tulis Taylor.

Tak Perlu Kambing Hitam

Taylor pun mengulang pernyataan Roy Keane bahwa karena ada korban, bukan berarti harus ada pihak yang disalahkan. Apabila melihat peraturan UEFA, tekel Moreno sudah semestinya diganjar hukuman. Taylor merujuk pada pedoman UEFA di mana tekel dengan kekerasan yang berlebihan atau membahayakan keselamatan pemain lawan bisa dihukum kartu merah.

Dalam hal ini, keselamatan Luke Shaw dipertaruhkan karena pada kenyataannya, ia menderita patah tulang kaki. Namun, Taylor pun memiliki bantahannya dengan menyatakan bahwa cedera di olahraga terkadang bisa datang kapan saja tanpa perlu ada yang harus disalahkan.

Apa yang dimaksud Taylor adalah benturan fisik memang terjadi, tapi bukan tak mungkin ada faktor dalam diri Shaw yang membuat tekel yang "dianggap bersih" oleh wasit menjadi brutal dan berbahaya. Salah satu alasannya karena posisi kaki Shaw yang meregang (tegang) karena tengah berada dalam ancang-ancang penuh untuk menghindari Moreno. Ini yang membuat benturan dengan kaki Moreno berdampak amat fatal.

Ini mirip dengan yang terjadi pada Aaron Ramsey saat ditekel Ryan Shawcross. Saat itu, terlihat posisi kaki Ramsey yang menjejak tanah dan berupaya penuh mengontrol bola liar. Nahas, Shawcross pun berusaha menyapu bola dan bertabrakan dengan kaki Ramsey yang posisinya tidak seimbang. Benturan pun menjadi lebih fatal ditambah dengan buruknya timing Shawcross saat melakukan tekel. Dalam kasus Shawcross wasit tak perlu pikir panjang untuk mengeluarkan kartu merah karena sang pemain tidak melakukan tekel pada bola, tetapi pada tulang kering Ramsey.



Kasus berbeda terjadi saat Vincent Kompany diusir wasit usai melakukan tekel gunting dua kaki saat merebut bola dari Luis Nani. Kompany melakukannya dengan bersih dan hampir tanpa benturan yang terlampau keras dengan kaki Nani. Namun, wasit langsung memberikan kartu merah.

Secara teori, wasit sudah melakukan hal yang benar karena tekel dengan dua kaki memang dilarang. Namun, banyak argumen yang menganggap bahwa tekel Kompany sama sekali tak membahayakan. Mereka menilai bahwa wasit telah mengambil keputusan yang berlebihan.

Hal utama yang membuat wasit menjadi kambing hitam adalah Nani yang melompat menghindari tekel dan ia sama sekali tak cedera. Lain cerita tentu jika Nani membiarkan kakinya dihajar Kompany yang bisa mematahkan kedua tulang kering dan engkelnya.



Solusi Instan Teknologi Video

Usai kejadian yang menimpa Luke Shaw, Inggris kian percaya diri untuk mengapungkan kembali ide penggunaan teknologi video, di mana wasit ataupun kedua kesebelasan bisa meminta wasit melihat tayangan ulang saat memutuskan terjadinya gol, penalti, dan kartu merah. Ketua FA, Greg Dyke, menjadi salah satu orang yang paling mendukung teknologi ini untuk diterapkan di ranah sepakbola.

Penggunaan teknologi video dikhawatirkan mengaburkan sisi humanis sepakbola, di mana wasit bisa saja melakukan kesalahan. Buat penonton awam, sisi humanis ini mengundang cerita-cerita "seru" di balik panggung lapangan hijau. Sementara untuk penggemar, sisi humanis justru amat merugikan.

Misalnya saja yang terjadi pekan lalu saat Gabriel diberi kartu merah oleh wasit. Penggemar Arsenal tentu kesal karena Diego Costa yang terlebih dahulu melakukan provokasi dengan membuat gerakan tangan (atau pukulan) ke wajah Laurent Konscielny. Gabriel yang memisahkan keduanya justru diberi kartu merah karena terjebak provokasi Costa.

Cerita-cerita kekeliruan wasit pun menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi mereka yang merasa dirugikan. Penggemar kesebelasan negara Irlandia barangkali tak akan pernah memaafkan Thierry Henry yang secara sengaja menahan bola dengan tangan, lalu mengirimkan assist ke William Gallas.

Apa yang dilakukan Henry mengubur semangat Irlandia untuk bisa berlaga di Piala Dunia 2010. Henry pun pensiun, pun dengan wasit yang memimpin pertandingan, Martin Hansson. Tapi waktu tak bisa diputar dan Irlandia tetap tak berlaga di Piala Dunia. FIFA bahkan membayar Irlandia lima juta euro untuk menghentikan legal action yang dilakukan Federasi Sepakbola Irlandia. Tentu, lima juta euro pun tak akan membuat Irlandia berlaga di Piala Dunia.

Teknologi video sepertinya bisa menjadi solusi instan akan keteledoran wasit. Irlandia bisa saja lolos ke Piala Dunia 2010, sedangkan Diego Costa sudah dihukum larangan bermain tiga kali karena membuat gerakan tangan ke wajah Konscielny. Namun, keberadaan teknologi video membuat kita sadar akan keterbatasan teknologi, terutama menyangkut yang terjadi pada Shaw.



Diatur FIFA

Jika dalam pertandingan PSV menghadapi MU sudah tersedia teknologi video, lantas apa yang akan dilakukan Rizzoli andai Louis van Gaal meminta video review? Apakah ia akan tetap membiarkan Moreno berkeliaran, atau malah mengusirnya dan memberi MU penalti?

Keputusan-keputusan yang memerlukan interpretasi amat rentan menghadirkan silang pendapat. Seperti yang terjadi pada Webb dan Poll di atas. Keduanya adalah wasit top Inggris yang pernah memimpin laga Liga Champions, Piala Eropa, dan Piala Dunia. Webb menyatakan kalau Moreno melakukan tekel yang bersih, sedangkan Poll dengan tegas pasti memberikan kartu merah untuk Moreno.

Sebenarnya tidak diperlukan interpretasi yang begitu mendalam soal kasus Moreno dan Shaw. Dalam law 12 FIFA yang mengatur soal foul dan miscondutcs, telah dijelaskan secara gamblang apa-apa saja yang diperlukan wasit saat memutuskan pelanggaran.

FIFA dengan jelas menyatakan "penggunaan kekuatan yang berlebihan" bisa berakibat dikeluarkannya sang pemain. FIFA pun memberi interpretasi bahwa maksud "penggunaan kekuatan yang berlebihan" adalah membuat pemain lawan dalam bahaya atau cedera.

Melihat penjelasan di atas, sudah semestinya Rizzoli memberi kartu merah pada Moreno. Sekalipun "tekelnya bersih" tapi ia tetap membuat Shaw berada dalam bahaya. Keputusan minor Rizzoli terbilang aneh karena ia termasuk salah satu wasit top Eropa yang secara rutin mendapatkan pendidikan wasit.

Apa yang terjadi dalam kasus Shaw seperti menjadi cermin di mana wasit masih terlampau sungkan untuk bertindak tegas. Padahal hal tersebut sudah menjadi ketentuan global karena disusun oleh FIFA. Tidak tegasnya wasit terhadap pelanggaran yang jelas diatur FIFA, ibarat memberi pembiaran dan pembelajaran buruk kepada penggemar.

Dalam kasus Kompany, penggemar yang terbiasa melihat tekel dua kaki pasti menyalahkan wasit, padahal wasit sudah punya interpretasi bahwa tekel tersebut bisa mengancam keselamatan pemain lawan, yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam aturan FIFA.

Kalau ingin membungkam penggemar atau pelatih yang mengomeli wasit, ada baiknya wasit bertindak tegas dengan tak memedulikan sisi humanis dalam sepakbola. Dengan ini penggemar atau pelatih akan terbiasa dengan keputusan-keputusan tegas yang terjadi karena melanggar aturan.



====

* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball


Nuhun for visit Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA

Berita Sepak Bola : Liverpool Dekati Ancelotti

Berita Sepak Bola : Liverpool Dekati Ancelotti

sumber berita Liverpool Dekati Ancelotti : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a17b677/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C1614390C30A268590C720Cliverpool0Edekati0Eancelotti/story01.htm
Liverpool - Rentetan hasil buruk yang diperoleh Liverpool membuat tekanan terhadap Brendan Rodgers semakin besar. Liverpool dikabarkan sudah mengontak pelatih top Carlo Ancelotti, untuk menggantikan Rodgers.

Setelah meraup kemenangan di dua pertandingan pertama liga, The Reds tiga kali imbang dan dua kali kalah dalam lima pertandingan berikutnya di semua kompetisi. Sebagian pendukung Liverpool mendesak supaya Rodgers diganti.

Apalagi, Rodgers sudah memasuki musim keempatnya di Anfield dan sejauh ini belum membawa Liverpool mencatatkan prestasi, selain yang paling bagus hanyalah finis runner-up Premier League pada 2013-14.

Menurut laporan media-media Inggris seperti Daily Mail, Liverpool Echo, mengabarkan bahwa setelah Simon Mignolet dkk. digebuk West Ham dan Manchester United, pihak klub mulai mencari alternatif Rodgers.

Setelah Juergen Klopp, kini muncul nama Ancelotti. Pelatih kawakan Italia itu masih menganggur karena sedang menjalani masa istirahat dari dunia sepakbola setelah dipecat Real Madrid pada musim lalu.

Kendati begitu, Ancelotti tetaplah pelatih jempolan. Selama kariernya, pria berusia 56 tahun itu sudah mengecap sukses; di Italia bersama AC Milan, Inggris bersama Chelsea, Prancis dengan Paris St. Germain, dan terakhir di Spanyol dengan Madrid.

Pada awalnya, Liverpool erat dihubungkan dengan Klopp. Namun, untuk mengamankan jasa pelatih kharismatik itu Liverpool dikabarkan akan disaingi raksasa Bundesliga Bayern Munich yang juga menginginkan Klopp untuk menggantikan Josep Guardiola, yang diyakini tidak akan memperpanjang kontraknya.

Nuhun for visit Liverpool Dekati Ancelotti

Berita Sepak Bola : Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA

Berita Sepak Bola : Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA

sumber berita Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a18780f/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C1724460C30A270A40A0C14970Cluke0Eshaw0Eteknologi0Evideo0Edan0Etegasnya0Eaturan0Efifa/story01.htm
Luke Shaw divonis menepi dari lapangan selama enam bulan. Tekel pemain PSV Eindhoven, Hector Moreno, mematahkan tulang kering dia. Pemain Manchester United itu pun ditandu keluar lapangan. Penonton bertepuk tangan tanda penghormatan, sementara komentator dan penonton di rumah mulai mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Dalam kasus Shaw, setidaknya ada tiga pihak yang bisa ditunjuk sebagai pihak yang disalahkan. Aktor pertama tentu Moreno yang melakukan tekel keras. Kedua, wasit yang tak memberikan kartu buat Moreno dan hadiah penalti untuk MU. Ketiga, Shaw sendiri yang memaksakan menerobos hadangan Moreno.

Ketiga pihak tersebut tentu punya argumen dan bantahannya masing-masing. Moreno melakukannya karena insting untuk menyelamatkan gawang dari ancaman lawan. Wasit sudah punya preferensi dan interpretasi sendiri soal aturan dasar tekel, sementara Shaw sedang berada dalam posisi menguntungkan untuk mencetak gol sehingga tak bisa menghindar.

Kolumnis The Guardian, Daniel Taylor, merangkum sejumlah pendapat, termasuk dua wasit terbaik Inggris: Howard Webb dan Graham Poll. Uniknya, keduanya punya pendapat yang berkebalikan. Webb mendukung keputusan wasit yang tak memberi hukuman, sementara Poll menegaskan kalau tekel tersebut pantas diganjar kartu merah. Padahal, baik Poll maupun Webb menonton dan mengkaji tayangan ulang yang sama.

Sejatinya silang pendapat hadir karena fatalnya cedera yang diderita Shaw. Barangkali apabila Shaw masih sehat dan segar bugar, fragmen tekel Moreno tak akan terlalu banyak mengambil tempat dalam laga yang dihelat di Stadion Phillips tersebut. Terlebih lagi MU kalah dan Moreno, si antagonis, turut mencetak gol. Hal tersebut meninggalkan "ketidakadilan" karena, apabila Shaw tak cedera, bisa saja PSV tak mencetak gol; bisa pula Moreno tak mengembangkan senyuman usai mencetak gol setelah mencederai Shaw.

Cederanya Shaw bukan cuma menjadi perhatian penggemar MU. Pendukung kesebelasan negara Inggris pun kecewa karena Shaw, yang hampir mencapai puncak performanya pada musim ini dan digadang-gadang menjadi bek kiri masa depan Inggris, hampir sulit untuk bisa dilibatkan dalam Piala Eropa 2016 mendatang. Masa pemulihan dari cedera yang ia derita memang bisa dipaksakan, tapi kondisi mental Shaw setelah patah tulang yang masih menjadi pertanyaan.

"Akan selalu ada rasa sedih saat melihat pemain yang masih muda, yang mencapai puncak permainannya, ditebas oleh cedera yang dalam kasus Luke Shaw itu adalah kemalangan yang begitu mengerikan," tulis Taylor.

Tak Perlu Kambing Hitam

Taylor pun mengulang pernyataan Roy Keane bahwa karena ada korban, bukan berarti harus ada pihak yang disalahkan. Apabila melihat peraturan UEFA, tekel Moreno sudah semestinya diganjar hukuman. Taylor merujuk pada pedoman UEFA di mana tekel dengan kekerasan yang berlebihan atau membahayakan keselamatan pemain lawan bisa dihukum kartu merah.

Dalam hal ini, keselamatan Luke Shaw dipertaruhkan karena pada kenyataannya, ia menderita patah tulang kaki. Namun, Taylor pun memiliki bantahannya dengan menyatakan bahwa cedera di olahraga terkadang bisa datang kapan saja tanpa perlu ada yang harus disalahkan.

Apa yang dimaksud Taylor adalah benturan fisik memang terjadi, tapi bukan tak mungkin ada faktor dalam diri Shaw yang membuat tekel yang "dianggap bersih" oleh wasit menjadi brutal dan berbahaya. Salah satu alasannya karena posisi kaki Shaw yang meregang (tegang) karena tengah berada dalam ancang-ancang penuh untuk menghindari Moreno. Ini yang membuat benturan dengan kaki Moreno berdampak amat fatal.

Ini mirip dengan yang terjadi pada Aaron Ramsey saat ditekel Ryan Shawcross. Saat itu, terlihat posisi kaki Ramsey yang menjejak tanah dan berupaya penuh mengontrol bola liar. Nahas, Shawcross pun berusaha menyapu bola dan bertabrakan dengan kaki Ramsey yang posisinya tidak seimbang. Benturan pun menjadi lebih fatal ditambah dengan buruknya timing Shawcross saat melakukan tekel. Dalam kasus Shawcross wasit tak perlu pikir panjang untuk mengeluarkan kartu merah karena sang pemain tidak melakukan tekel pada bola, tetapi pada tulang kering Ramsey.



Kasus berbeda terjadi saat Vincent Kompany diusir wasit usai melakukan tekel gunting dua kaki saat merebut bola dari Luis Nani. Kompany melakukannya dengan bersih dan hampir tanpa benturan yang terlampau keras dengan kaki Nani. Namun, wasit langsung memberikan kartu merah.

Secara teori, wasit sudah melakukan hal yang benar karena tekel dengan dua kaki memang dilarang. Namun, banyak argumen yang menganggap bahwa tekel Kompany sama sekali tak membahayakan. Mereka menilai bahwa wasit telah mengambil keputusan yang berlebihan.

Hal utama yang membuat wasit menjadi kambing hitam adalah Nani yang melompat menghindari tekel dan ia sama sekali tak cedera. Lain cerita tentu jika Nani membiarkan kakinya dihajar Kompany yang bisa mematahkan kedua tulang kering dan engkelnya.



Solusi Instan Teknologi Video

Usai kejadian yang menimpa Luke Shaw, Inggris kian percaya diri untuk mengapungkan kembali ide penggunaan teknologi video, di mana wasit ataupun kedua kesebelasan bisa meminta wasit melihat tayangan ulang saat memutuskan terjadinya gol, penalti, dan kartu merah. Ketua FA, Greg Dyke, menjadi salah satu orang yang paling mendukung teknologi ini untuk diterapkan di ranah sepakbola.

Penggunaan teknologi video dikhawatirkan mengaburkan sisi humanis sepakbola, di mana wasit bisa saja melakukan kesalahan. Buat penonton awam, sisi humanis ini mengundang cerita-cerita "seru" di balik panggung lapangan hijau. Sementara untuk penggemar, sisi humanis justru amat merugikan.

Misalnya saja yang terjadi pekan lalu saat Gabriel diberi kartu merah oleh wasit. Penggemar Arsenal tentu kesal karena Diego Costa yang terlebih dahulu melakukan provokasi dengan membuat gerakan tangan (atau pukulan) ke wajah Laurent Konscielny. Gabriel yang memisahkan keduanya justru diberi kartu merah karena terjebak provokasi Costa.

Cerita-cerita kekeliruan wasit pun menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi mereka yang merasa dirugikan. Penggemar kesebelasan negara Irlandia barangkali tak akan pernah memaafkan Thierry Henry yang secara sengaja menahan bola dengan tangan, lalu mengirimkan assist ke William Gallas.

Apa yang dilakukan Henry mengubur semangat Irlandia untuk bisa berlaga di Piala Dunia 2010. Henry pun pensiun, pun dengan wasit yang memimpin pertandingan, Martin Hansson. Tapi waktu tak bisa diputar dan Irlandia tetap tak berlaga di Piala Dunia. FIFA bahkan membayar Irlandia lima juta euro untuk menghentikan legal action yang dilakukan Federasi Sepakbola Irlandia. Tentu, lima juta euro pun tak akan membuat Irlandia berlaga di Piala Dunia.

Teknologi video sepertinya bisa menjadi solusi instan akan keteledoran wasit. Irlandia bisa saja lolos ke Piala Dunia 2010, sedangkan Diego Costa sudah dihukum larangan bermain tiga kali karena membuat gerakan tangan ke wajah Konscielny. Namun, keberadaan teknologi video membuat kita sadar akan keterbatasan teknologi, terutama menyangkut yang terjadi pada Shaw.



Diatur FIFA

Jika dalam pertandingan PSV menghadapi MU sudah tersedia teknologi video, lantas apa yang akan dilakukan Rizzoli andai Louis van Gaal meminta video review? Apakah ia akan tetap membiarkan Moreno berkeliaran, atau malah mengusirnya dan memberi MU penalti?

Keputusan-keputusan yang memerlukan interpretasi amat rentan menghadirkan silang pendapat. Seperti yang terjadi pada Webb dan Poll di atas. Keduanya adalah wasit top Inggris yang pernah memimpin laga Liga Champions, Piala Eropa, dan Piala Dunia. Webb menyatakan kalau Moreno melakukan tekel yang bersih, sedangkan Poll dengan tegas pasti memberikan kartu merah untuk Moreno.

Sebenarnya tidak diperlukan interpretasi yang begitu mendalam soal kasus Moreno dan Shaw. Dalam law 12 FIFA yang mengatur soal foul dan miscondutcs, telah dijelaskan secara gamblang apa-apa saja yang diperlukan wasit saat memutuskan pelanggaran.

FIFA dengan jelas menyatakan "penggunaan kekuatan yang berlebihan" bisa berakibat dikeluarkannya sang pemain. FIFA pun memberi interpretasi bahwa maksud "penggunaan kekuatan yang berlebihan" adalah membuat pemain lawan dalam bahaya atau cedera.

Melihat penjelasan di atas, sudah semestinya Rizzoli memberi kartu merah pada Moreno. Sekalipun "tekelnya bersih" tapi ia tetap membuat Shaw berada dalam bahaya. Keputusan minor Rizzoli terbilang aneh karena ia termasuk salah satu wasit top Eropa yang secara rutin mendapatkan pendidikan wasit.

Apa yang terjadi dalam kasus Shaw seperti menjadi cermin di mana wasit masih terlampau sungkan untuk bertindak tegas. Padahal hal tersebut sudah menjadi ketentuan global karena disusun oleh FIFA. Tidak tegasnya wasit terhadap pelanggaran yang jelas diatur FIFA, ibarat memberi pembiaran dan pembelajaran buruk kepada penggemar.

Dalam kasus Kompany, penggemar yang terbiasa melihat tekel dua kaki pasti menyalahkan wasit, padahal wasit sudah punya interpretasi bahwa tekel tersebut bisa mengancam keselamatan pemain lawan, yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam aturan FIFA.

Kalau ingin membungkam penggemar atau pelatih yang mengomeli wasit, ada baiknya wasit bertindak tegas dengan tak memedulikan sisi humanis dalam sepakbola. Dengan ini penggemar atau pelatih akan terbiasa dengan keputusan-keputusan tegas yang terjadi karena melanggar aturan.



====

* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball


Nuhun for visit Luke Shaw, Teknologi Video, dan Tegasnya Aturan FIFA